(Image: Shutterstock)

Penulis: Manggarayu | Editor: Ria

Sebagai pemula, saya belajar untuk memperhatikan setiap detail dari sebuah penjelasan. Misalnya saat baru pertama kali belajar baking, saya sangat terpatok dengan resep-resep kue. Tiap bahan dan langkah yang tercantum di sana saya ikuti dengan baik, hingga saya menemukan beberapa istilah yang terdengar asing.

Waktu itu saya belum mengerti apa itu “bantat”. Ternyata setelah praktik beberapa kali, baru saya paham kalau bantat itu adalah tekstur kue yang padat, sedangkan harusnya si kue ini mengembang naik. Selain itu, ada beberapa istilah lain yang saya temui dan saya rasa perlu anda ketahui juga. Apa saja? Scroll ke bawah, ya!

Note: Sesuai alfabet

1. BPDA

Beberapa resep mencantumkan istilah ini dengan takaran ¼ hingga 1 sdt. Sebetulnya, apa sih BPDA itu? BPDA adalah singkatan dari “Baking Powder Double Acting”, yakni jenis baking powder yang memiliki dua tahap aktif. BPDA banyak digunakan dalam pembuatan kue yang harus mengembang. Biasanya, para pemula (seperti saya) memakai baking powder ini karena tak perlu takut si kue gagal mengembang.

Baca juga: Apa Bedanya? Baking Powder Single Acting vs Double Acting

2. DCC

Istilah yang satu ini pasti sering anda temukan dalam resep-resep kue coklat. Yup, DCC merupakan singkatan dari “Dark Cooking Chocolate” atau coklat masak dengan kadar kakao yang cukup tinggi. Nah hampir semua resep kue atau kudapan pencuci mulut rasa coklat pasti memakai bahan ini. Biasanya, DCC perlu dilelehkan, dipotong, diiris tipis, atau diserut untuk topping kue.

Baca juga: Aneka Jenis Coklat untuk Membuat Kue

3. Emulsifier

Hmm, istilah ini terkesan ilmiah sekali ya? Pada dasarnya, emulsifier berarti pengelmusi atau bahan yang berfungsi untuk menyatukan semua bahan-bahan dalam satu resep kue. Emulsifier biasa digunakan untuk mencampurkan bahan-bahan yang sulit menyatu, seperti lemak (margarin dan mentega) dan air. Selain menyatukan bahan agar tercampur rata, emulsifier juga dipakai untuk melembutkan tekstur kue. Bahan ini populer di pasaran dengan merek dagang Ovalet, TBM, dan SP.

Baca juga: Mengenal Cake Emulsifier, Bentuk, serta Mereknya di Pasaran

4. Hard Peak & Soft Peak

Ketika membaca langkah pembuatan dalam resep, anda pasti menemukan perintah “kocok hingga mengembang” dan “kocok hingga kaku” saat mengaduk putih telur dan gula. Nah, soft peak sama saja artinya dengan kocok mengembang,  sedangkan hard peak adalah kocok kaku.

Soft peak adalah tahapan mengocok hingga bentuknya seperti foam lembut. Istilah ini juga biasa disebut “puncak tumpul”, yakni waktu kocokan mixer diangkat, ia akan membentuk puncak tumpul yang mudah terkulai jatuh. Sedangkan hard peak atau “puncak kaku” adalah tahapan mengocok hingga kaku dan ketika mangkuknya dibalik, ia tidak akan tumpah. Hard peak memang butuh durasi yang lebih lama daripada soft peak karena harus banyak mengumpulkan udara agar teksturnya kaku.

Baca juga: 4 Tips Mengocok Putih Telur yang Baik

5. Proofing

Kalau ingin buat roti ala rumahan, anda akan sering bertemu istilah ini. Proofing adalah sebuah tahap pembuktian bahwa ragi (bahan pengembang alami) yang dicampurkan dalam adonan roti memang bekerja secara aktif. Biasanya, tahap ini dibuktikan dengan mengembangnya adonan roti 2-3 kali lipat setelah didiamkan beberapa saat. Dalam pembuatan roti, ada dua tahap proofing yang harus dilalui, yakni pertama untuk mengecek keaktifan ragi dan yang kedua untuk menghasilkan bentuk roti sesuai keinginan.

Baca juga: 5 Tips Menggunakan Ragi Untuk Adonan Kue dan Roti

6. Teknik Aduk-Balik

Istilah yang satu ini biasa ditemukan saat langkah pencampuran bahan kering dengan bahan basah. Atau, mencampur kocokan putih telur (meringue) dalam bahan yang konsistensinya lebih kental. Entah dikatakan “teknik aduk-balik” atau “aduk-lipat” sebetulnya sama saja, ya. Teknik ini merujuk pada gerakan tangan saat mengaduk adonan dengan spatula atau sendok kayu.

Caranya, arahkan spatula pada pinggiran adonan lalu seperti hendak mengumpulkannya ke tengah mangkuk, putar spatula ke atas dan “lipat” adonan secara perlahan. Lakukan hingga kedua jenis bahan tercampur rata. Nah, mengapa kita harus memakai teknik ini? Tentu supaya udara yang tersimpan di adonan kering maupun meringue “terkunci” dalam adonan basah, sehingga ketika dipanggang kuenya bisa mengembang cantik.

Baca juga: 3 Tips Mengaduk Adonan Kue agar Sukses dan Anti Bantat

7. Tes Tusuk

Wah, kira-kira apa yang ditusuk ya? Tentu saja si kue yang sedang dipanggang, dong. Jadi saat proses panggang sedang berlangsung, ada kalanya kita perlu mengecek kematangan tekstur kue. Dalam tahap ini, anda hanya butuh lidi atau tusuk gigi yang bersih, lalu tusukkan ke dalam kue. Ketika tusuk gigi diangkat, perhatikan jika ada adonan yang menempel di sana. Jika tidak ada alias bersih, berarti adonan sudah cukup matang. FYI, tes tusuk ini perlu dilakukan dengan cepat, ya. Sebab, terlalu lama membuka pintu oven malah membuat kue anda kempis, lho.

Baca juga: 6 Tips Sukses Memanggang Kue

8. Ulen Kalis

Satu lagi istilah yang akan sering ditemui si penyuka roti. Ulen adalah sebuah tahap dimana adonan roti akan digiling dengan tangan hingga bentuknya utuh dan bertekstur halus. Nah proses ulen dibilang berhasil kalau adonan sudah benar-benar “kalis”. Bagaimana kita mengetahuinya? Pastinya si adonan ini tidak akan terasa lengket di tangan, terasa empuk dan kenyal ketika dicubit atau dipukul, dan akan melar seperti karet ketika ditarik dari dua sisi. Proses menguleni hingga kalis bisa berlangsung 5-7 menit, tergantung kualitas adonan.

Baca juga: 4 Ciri Adonan Ulenan Telah Kalis Sempurna

Nah, sekarang jangan keliru lagi ya kalau bertemu istilah-istilah di atas. Selain istilah di atas, sebetulnya masih banyak istilah-istilah dalam dunia kue dan roti yang lain. Semakin banyak jenis kue yang bisa anda buat, semakin banyak pula istilah lain yang bisa ditemui. Ayo semangat belajar baking-nya!