Oleh: Shastri Darsono

Sejak kecil saya termasuk golongan cewek tomboy yang tidak suka masak. Di saat anak-anak cewek yang lain pada main masak-masakan, saya malah sebaliknya, main sepeda keliling komplek bersama anak-anak cowok. Hal ini terus saya alami sampai saya mau masuk kuliah.

Pada masa kuliah, saya tinggal di rumah sendiri dan di sediakan pembantu oleh orang tua saya, sehingga saya mempunyai alasan yang tepat untuk tidak perlu masak. Makanan saya sehari-hari sudah disiapkan oleh pembantu saya. Namun, ada rasa penasaran juga untuk ingin belajar. Pelan-pelan saya mulai membuat mie rebus sendiri tanpa bantuan si mbak. Hasilnya siy okay meskipun mienya selalu blenyek. Mau masak dimanapun atau pakai kompor baguspun, akan tampak sama saja. Sampai saya sudah punya dua anakpun, hasilnya tetap selalu blenyek.

Saya sampai di ejek-ejek oleh teman-teman saya karena apapun yang saya masak pasti hasilnya blenyek atau rasanya aneh. Sejak saat itu, saya berhenti belajar masak. Semua saya serahkan ke pembantu saya. Awalnya dia memang tidak bisa masak. Saya yang mengajarinya masak, berbekal dari buku resep dan feeling takaran bumbu-bumbu. Sampai akhirnya dia jadi jago membuat masakan Indonesia, Chinese, Italian, Japanese dan Korean. Kata suami saya, “Lucu ya, kamu gak bisa masak tapi bisa mengajarkan orang jadi jago masak?”

Lalu tibalah saat yang paling saya takutkan, si mbak yang jago masak dan sudah bekerja selama sepuluh tahun sama saya, akhirnya minta ijin untuk kembali pulang ke kampung. Kemudian saya panik memikirkan bagaimana masakan untuk sehari-hari. Karena saya termasuk orang yang tidak biasa makan menggunakan msg.

Rasanya campur aduk antara sok cuek tapi deg-degan. Saya sampai membujuk dia untuk tetap tinggal dengan menawarkan naik gaji 2 kali lipat. Tetapi si mbak memang harus pulang karena orang tuanya sakit. Akhirnya saya harus merelakannya.

Setelah itu, saya beberapa kali dapat pembantu masa kini yang kebanyakan tidak ada yang bisa atau tidak mau masak tepatnya. Di saat yang bersamaan pula, suami saya harus menjalankan program diet untuk livernya. Dengan terpaksa, akhirnya saya harus mulai masuk dapur. Saya memulai browsing di internet, mencari menu mudah dan sehat untuk program diet suami, anak-anak saya yang alergi dan tentunya buat si mbak baru yang tidak bisa masak juga. Untungnya saya bisa makan apa saja.

Dalam mencari menu termasuk mudah, tetapi dalam mencari makanan yang bisa di makan sesuai dengan kondisi seisi rumahlah yang bikin semrawut. Apalagi kalau semuanya harus di masak sendiri. Anyway, a mom’s gotta do, what a mom’s gotta do, right?

Seiring dengan berjalannya waktu dan seringnya berlatih masak, akhirnya saya jadi suka memasak. Dari yang tadinya masak sambil megang buku resep, sekarang tinggal melihat bahan yang ada udah bisa dijadiin makanan. Yang paling penting, semua makanannya sehat karena homemade. Dan sayapun baru menyadari, ternyata memasak sendiri itu banyak manfaatnya lho. Inilah manfaat-manfaat yang saya rasakan:

  1. Membuat rasa makanan sesuai selera.
  2. Bahan sayuran dan bahan yang lain lebih higienis, bebas msg dan terjamin kandungannya.
  3. Demi kesehatan, karena dapat menghitung kalori makanan yang akan di masak.
  4. Me time jika lagi ingin menyendiri atau family time untuk menciptakan suasana harmonis bersama keluarga.
  5. Lebih ekonomis, membuat pengeluaran lebih irit dan menjadi pengelola keuangan yang baik.
  6. Dapat menghasilkan tambahan jika masakan andalan kita dapat dijual.
  7. Melatih kesabaran. Untuk membuat hiasan pada makanan agar tampak cantik, membutuhkan kesabaran tingkat dewa.
  8. Menjadi lebih penasaran dan kreatif dalam membuat menu baru.
  9. Menambah banyak wawasan tentang makanan dan kesehatan. Karena saling berkaitan satu sama lain.
  10. Membahagiakan keluarga.

Hal paling membahagiakan dari memasak adalah melihat masakan saya langsung ludes dalam sekejap. Ada rasa terharu plus bangga pada diri sendiri. All great things takes time.

Semoga artikel ini dapat menginspirasi mereka yang awalnya malas masak atau belum memiliki rasa percaya diri dalam memasak seperti saya dulu.