Kamu termasuk penggiat healthy lifestyle? Pasti kamu sudah ga asing lagi dengan produk-produk makanan berlabel “low fat” ataupun “non fat”. Atau bahkan sudah menjadi konsumsi rutin kamu? Sekarang kayaknya kamu harus berpikir ulang lagi deh. Hasil penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa sebagian besar produk berlabel low fat atau non fat memiliki kandungan gula yang lebih tinggi dibandingkan produk versi regularnya atau full fat.

Sementara itu, tidak ada ketetapan nilai gizi yang harus dipenuhi dari asupan gula karena gula hanya menyumbangkan zat gizi karbohidrat, yang juga bisa dipenuhi dari sebagian besar bahan makanan lain seperti nasi, pasta, aneka roti, dan buah-buahan. Kandungan gula yang lebih tinggi ini memiliki tujuan utama yaitu untuk meningkatkan rasa (flavour) dari produk low fat atau non fat. Tidak bisa dipungkiri bahwa modifikasi pengurangan kandungan lemaknya pasti menghasilkan rasa yang kurang enak karena salah satu fungsi lemak yaitu meningkatkan cita rasa suatu makanan.

Kementerian Kesehatan RI menganjurkan batas konsumsi harian adalah sebanyak 50 gram saja atau setara dengan 4 sendok makan gula pasir. Sementara itu konsumsi gula berlebih dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas dan Diabetes Mellitus Tipe 2. So, lebih pilih mana produk berlabel low fat atau less sugar?

Fakta ini tentunya tidak dapat disalahkan sepenuhnya pada produsen karena produsen juga akan membuat penawaran sesuai permintaan pasar, yaitu makanan lezat dengan berbagai klaim kesehatan.

Nah sebaiknya yang perlu diubah yaitu mindset atau pola pikir kita sebagai konsumen. Ingin tetap makan minum enak produk siap saji dengan kandungan nutrisi terbaik? Hmm mungkin akan lebih bijaksana bila kita mempersepsikan bahwa segala makanan dan minuman yang lebih sehat (less sugar atau less salt) itu pasti lebih lezat, setuju?